Skip to content

SITI NURBAYA

2009 December 13
Posted by rifaie27

Siti Nurbaya bukanlah nama yang asing di telinga orang dewasa. Ia adalah simbol pemaksaan dalam hal perjodohan / pernikahan. Kesalahan orang tua dibebankan kepada anak perempuannya. Miris melihat kenyataan semacam itu di masa lalu. Sejak saat itu terjadilah pertentangan seorang anak akan perjodohan orang tua. Anak-anak merasa memiliki hak untuk menentukan pilihan seperti apa, siapa dan bagaimana jodoh yang dikehendakinya.
Di satu suku terkenal di Indonesia perjodohan yang dilakukan oleh orang tua sangatlah sakral. Tanpa melihat bagaimana bentuk rupa dan warna, ia terima dengan lapang dada dan hati terbuka. Selama itu juga pernikahan mereka langgeng dan anteng. Mereka memiliki keturunan yang baik dan cantik.
Masa modern memiliki perbedaan yang signifikan dan mendasar dalam hal perjodohan. Banyak sekali media yang menawarkan jasa untuk mencarai pasangan atau biasa dikenal Biro Jodoh. Di akhir tahun ini muncul acara televisi yang memfasilitasi pria dan wanita untuk saling kenal-mengenali.
Saya melihat kasus ini sebagai ironi, di mana adat istiadat yang keramat terlumat oleh kepentingan sesaat. Bukankah kewajiban kedua orang tua mencarikan calon suami untuk anak perawannya? Namun sang anak menilai orang tuanya ‘tidak gaul dan tidak mengikuti perkembangan zaman’.
Permasalahan ini sering dijumpai di berbagai lini. Pihak orang tua wanita dan pria telah beri’tikad untuk besanan. Namun si perawan memiliki segudang alasan untuk menunda berujung penolakan. Andai Siti Nurbaya masih ada, akan ku minta ia untuk menjelaskan kepada semua wanita di Indonesia apa arti cinta.
Pintaku kepada Tuhan “Pertemukan aku dengan ‘Siti Nurbaya’ ke-2 yaitu dia diminta nikah orang tuanya tapi bukan karena kesalahan orang tua yang dilimpahkan kepada sang anak.

Perjalanan menjadi CPNS

2009 October 24
Posted by rifaie27
Wajah lama namun tetap mempesona para wanita (tua)

Wajah lama namun tetap mempesona para wanita (tua)

Bismillahir Rohmanir Rohim

Hari jum’at, hari keramat. Hari sabtu, hari kelabu. Hari minggu, ku turut ayah ke (ibu) kota. Itu adalah sepenggal puisi dan lagu kegembiraan yang aku dan beberapa temanku alami.

Hari jumat, hari keramat…
Pada tanggal 28 Agustus 2009, ada seorang rekan kerjaku, biasanya memberi kabar burung, pada saat itu ia hanya missed call. Perkiraanku dia mau membeli pulsa atau memberi kabar burung lagi seperti biasanya agar hatiku sedikit bahagia. Ketika sholat jum’at, aku hanya mengisi kotak infaq hanya sekian rupiah. Siang itu mata berasa kantuk yang teramat sangat namun mata enggan terpejam, badan enggan terdiam dan pikiran surfing alias berselancar di luasnya alam. Tak lama kemudian handphoneku yang jelek rupanya berdering mengejutkan dengan nada “Nokia tune”. Setelah ku genggam dan perhatikan dengan seksama, ini nomor baru tak bernama. Tanpa pikir panjang aku terima panggilannya, ternyata suara cewek. Suara itu akrab di telingaku. Dengan cepat otak kananku merespon intonasi bicaranya sedangkan otak kiriku membuka file kontak. Dia membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan. “Hey, kamu sudah tahu ya kabar SK kalian?”. Sontak aku terbangun dari rebahanku. “Aku gak tahu.” Jawabku singkat. “Tadi siang aku lewat depan Kantor Depag setelah pulang dari sekolah tapi ga ada lembaran tertempel di kaca.” Lanjutku. “Ah, kamu pasti pura-pura?” Dia bertanya dengan nada tak percaya. “Benar… aku gak tahu-menahu soal SK.” Aku jawab dengan nada agak sengit. Setelah beberapa kali ia mencoba memancingku untuk mengatakan sesuatu yang benar-benar aku gak tahu, ia mulai mengatakan “SK kalian sudah keluar. Bisa diambil hari senin.” Kini balik aku tidak percaya. Ini bagai mimpi di alam suci. Lalu ia menghentikan kegembiraan yang baru saja tumbuh. “Ada beberapa SK yang perlu diperbaiki. Nah, apakah pembagiannya menunggu semuanya selesai atau diberikan sesuai jumlah SK yang ada.” Hatikupun berdebar dan berdegug kencang. Rasa takut menelusup ke dalam pori-pori dan menyebar ke seluruh kelenjar nadi. Di sinilah perang bergejolak antara yakin dan mamang. Karena jauh-jauh hari ada seseorang yang memberi tahu bahwa Ijazahku bermasalah. Sedangakan orang itu adalah orang yang ku percaya no 35 setelah tuhan. Aku harus menenangkan diri. Peribahasa “Tak kan lari gunung dikejar.” Aku sangat berterima kasih atas informasi yang diberikan.
Aku teringat janji temanku nun jauh dari hiruk pikuk kota Pangkalan Bun. Aku pun bergegas mengabarinya melalui pesan singkat, padat, kuat, ketat, rekat dan sedikit akurat. (Hehehehe) Tanpa pikir panjang ia menelponku untuk memastikan berita itu padahal ia sedang memberikan pelajaran di hadapan anak didiknya waktu itu. Karena sedikit akurat, ia berpamitan untuk menelpon pegawai Kandepag untuk memantapkan keyakinannya yang sidik pudar.

Hari sabtu, hari kelabu…
Aku berniat bertemu dengan orang-orang, yang beruntung setelah menerima pengumuman kelulusan tes CPNS di lingkungan Depag Kobar, sehingga kami bisa berangkat bersama-sama ke ibu kota. Tak dinyana, tak disangka. Tugasku di sekolah tidak bisa rampung dalam waktu singkat. Aku bisa meminta izin pada pukul 10.00 WIB. Setibanya di sana, aku bertemu dengan seorang CPNS, dimana kami pernah bertemu di rumah sakit ketika mengurus Surat Keterangan Kesehatan Jasmani dan Rohani di rumah sakit. Dia menunjukkan secarik kertas dan menjelaskan sekelumit informasi. Ia pun menyarankan aku untuk segera masuk ke dalam ruangan kepegawaian. Disana akan dijelaskan secara terang dan gamblang. Aku pun tak sabar ingin segera tahu apakah aku juga berhak menerima SK dari Kepala Kanwil Depag Prov. Kal-Teng. Dengan tekat yang bulat aku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalam ruangan berdiameter 7 x 7 meter itu ada seorang wanita berparas rupawan. Di tangannya terdapat lembaran kertas. Setelah aku memperkenalkan diri, wanita memeriksa namaku di dalam daftar peserta CPNS. Alhamdulillah, namaku berada pada posisi ke sebelas. Ibarat sepak bola itu posisi terakhir, lebih dari itu adalah cadangan. Setelah menerima surat pengantar tersebut, aku teringat perkataan temanku, yang ku jumpai di depan kantor. Ia berujar bis A masih terisi sekitar 10 kursi pada pukul 11.00 WIB. Aku beranggapan aku bisa memesan sore itu. Setelah sholat dhuhur aku berangkat ke sekolah untuk melaksanakan tugas harian. Di sana temanku menyambut dengan senyuman hangat. Ia mengajakku bermain bola di komputer. Tentu itu suatu penghargaan bagi ku dan ku anggap itu hadiah perpisahan baginya. Tak ku sadari waktu berjalan begitu cepat. Aku memacu sepeda motorku agar segera tiba di agen bis A. Ketika tiba di sana, terpampang sebuah pemberitahuan di depan pintu bahwa jam kerja selama bulan ramadhan mengalami perubahan. Dalam hati ku berkata “It’s not my lucky day.” Akan ku coba malam itu seusai sholat isya dan tarawih. Setibanya di agen bis A aku memesan dua kursi kelas ekonomi. Maklumlah anak muda, badan masih kuat dan kemauan tak terikat. “Penuh, mas.” Jawabnya singkat. “Waduh…” keluhku. “Kalau mau yang AC aja.” Sarannya. “Apa gak ada solusi lain?” pintaku. “Gini aja. Besok jam 9 ke sini aja lagi. Mungkin ada yang mundur.” Dia menawarkan sebuah alternatif. “Ok deh, makasih.” Aku pun berlalu.

Hari minggu, ku turut ayah ke kota…
Keesokan harinya, jam 8 aku merasa kwatir semua bis terisi penuh baik ekonomi maupun AC. Aku pun memesan dua kursi kelas AC melalui telepon. Syukurnya masih ada beberapa kursi yang kosong. Dia memintaku untuk datang membayar dan mengambil tiket pukul 09.00 WIB atau satu jam kemudian. Aku sempatkan diri untuk mengunjungi beberapa tempat yang berkaitan dengan keseharianku. Setelah rampung, aku bergegas mendatangi agen bis A. Di sana si petugas sedang menelpon para calon penumpang yang telah memesan tempat sebelumnya untuk memastikan kesediaannya berangkat. Aku tak ingin menghabiskan waktuku di ruangan sempit itu karena ada beberapa hal yang belum aku persiapkan. Aku sedikit memaksa petugas tersebut agar segera melayani calon penumpang yang berada di situ. Setelah melakukan panggilan beberapa kali dan tidak ada tanggapan, orang itu mencoret nama yang ada di sebuah lembaran. Dia beralih kepadaku “Sampean yang pesan ekonomi, ya?” tanyanya. “Iya, tapi kan udah penuh. Terus tadi pagi aku pesan AC. Emang ekonomi ada yang kosong?” paparku. “Sebentar… mau ga poisisi di belakang?” tawarnya. “Gak apa-apa.” Tanggapku. Sembari petugas itu mengatur posisi duduk calon penumpang, aku menghitung-hitung uang yang ada di saku. Ternyata uangku tak cukup untuk membeli dua tiket, masih kurang Rp. 5.000,-. Petugasnya memberiku keringanan untuk melunasinya ketika akan berangkat atau daftar ulang sore itu. Aku sangat senang rencanaku disetujui oleh Tuhan.
Pada sore hari, aku berkemas-kemas dan menuju agen bis A. Ketika tiba di lingkungan agen bis itu, nampak keramaian orang-orang yang berangkat pergi maupun keluarga pengantar. Aku melihat mantan rekan kerjaku duduk di sepeda motor kesayangannya. Untuk kesekian kalinya aku masuk ke ruangan itu. Kali ini untuk mendaftar ulang letak posisi duduk para penumpang. Tak lama kemudian muncul seorang CPNS dengan jaket hitam. Aku pun menyapanya ringan saja. “Dapat nomor berapa?” tanyanya. “32. kamu?” jawab dan tanyaku singkat. “31” “Lho, kok bisa dapat bangku di belakang. Bukannya udah mesen sejak kemarin pagi?” aku tertegun mendengar dia menyebutkan angka 31. “Aku mesannya sudah agak sore hari.”

cintaku

2009 August 18
Posted by rifaie27

Bismillahir rohmanir rohim

Saat ini aku masih mempunyai komitmen dengan seorang gadis. Walaupun itu bukan suatu yang kokoh. Kami tidak saling mengikat satu dengan yang lain untuk mendapatkan pasangan lain untuk hubungan yang lebih serius. Itu hal yang wajar saja bagi anak muda masa kini. Tapi aku tidak rela bila ia harus dipinang oleh orang lain. Dia cantik rupawan dan memiliki talenta yang handal. Aku pernah mengajaknya untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih resmi. Aku tidak ingin menahan onak di dalam otak yang semakin lama semakin mengganas seperti tumor.
Untuk mengobati kekecewaan ku terhadap alasan yang dilontarkan, aku ungkapkan isi hatiku kepada seorang dosen yang sangat aku kagumi. Beliau seakan mengenalku sangat dekat walaupun kami hanya bertemu sekali dan itupun bukanlah perkenalan selayaknya seorang guru dan murid yang saling menyebutkan nama. Walau hanya dengan Short Massage Service (SMS), beliau sudi membalas dengan penuh tanggung jawab. Semua jawaban yang diberikan sesuai dengan situasi dan kondisiku saat itu. Aku sungguh kagum dan salut. Aku yakin beliau memiliki ilmu yang sangat mumpuni dan telah makan asam garam kehidupan. Beliau menganjurkanku untuk segera menikah. Soal rezeki tidak perlu dirisaukan. Kemudian aku mantapkan hati dan bulatkan tekad untuk mengatakannya.
Suatu saat ketika gadisku berbicara tentang musim pernikahan di daerahnya, aku memancing pembicaraan tersebut mengarah kepada hubungan kami untuk lebih serius. Ketika aku mengajaknya menikah. Ia setuju dengan rencana itu. Tapi entah kenapa seakan berat untuk menerima dengan legowo kondisiku. Dia beralasan ingin meniti karir. Aku menduga bahwa ia tidak menerimaku saat ini karena status pekerjaanku sebagai tenaga Bantu yang hanya berupahkan (mungkin di bawah penghasilannya) sekian rupiah.
Aku ingin sekali mengakhiri hidup sebagai bujang. Hendak hati memiliki kehidupan baru yang lebih layak dan enak. Apalagi status yang akan aku sandang sebagai pegawai Kantor Urusan Agama (KUA), yang notabene mengurusi orang memulai dan mengakhiri pernikahan. Apa kata dunia? Bila ku tak mempunyai istri…
Sungguh Allah maha mengetahui dan bijaksana. Semua rencananya tersusun rapi dan pasti. Satu malaikat pun yang tahu qodo’ dan qodar. Entah kenapa aku sebagai manusia begitu lancang mengatur strategi untuk menjadikannya harga mati. Maafkan hamba-Mu ini ya Allah…
Pekan ini Allah memperlihatkan satu skenario baru dengan mendatangkan seorang gadis manis. Subhana Allah… andaikan nabi Yusuf masih di mesir, aku akan meminta beliau datang ke Indonesia mendampingiku untuk meminangnya. Agar parasku nampak bersinar. Hari ini aku menatap wajahnya yang hanya berjarak dua meter. Masya Allah, matanya, bibirnya, senyumnya sungguh teramat indah. Begitu jelas kesemeringahannya yang alami dari sunggingan pipinya. Aku jadi gila dibuatnya.
Ya Allah, aku gila karena gadis ini. Tolonglah hambamu ini yang sedang jatuh cinta. Jadikanlah ia menjadi qurrota a’yun ku waj’alna lilmuttaqiin. Setiap aku berjumpa dengannya aku selalu salah tingkah. Wajahnya selalu terbayang dalam setiap angan. Makan tak terasa ikan. Tidur tak bisa mendengkur. Apa ini cinta pada pandangan pertama? Ini sungguh membuatku menjadi tak berpikir secara logika. Ketika di sampingnya, hati bagai rambut dielus dengan kelembutan. Namun setelah ia berpamitan dan mengucapkan salam, aku seperti mayat yang baru saja dikubur dan ditinggal sanak saudara. Sepi…
Ya Allah Engkau yang memiliki kuasa atas diriku dan dirinya. Aku mohon kepadaMu jadikanlah kami zawjayni. Seperti Muhammad dan Khadijah. Layaknya Yusuf dan Zulaikha’. Aku yakin engkau memiliki perhitungan yang jeli dan teliti.
Ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ’ala diinika. Allahumma inni asalukaz zawjatas sholihah. Amin… Amin… Amin…

Akal ku berasumsi ini memiliki kemungkinan untuk berhasil hanya 30%. Aku merasa telah ditolak cintanya dengan pisau-pisau yang dihujamkan ke dadaku. Lidahku kelu. Bibirku membisu. Kakiku kaku. Tanganku bergerak enggan. Hati kecilku berkata untuk membesarkan jiwaku ”tidak usah kwatir, akal itu hanya bisa memperhitungkan logika.”

Hello world!

2009 August 18
Posted by rifaie27

Welcome to Blog.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!